Sungai adalah salah satu jenis ekosistem air yang sudah akrab ditelinga kita. Secara pribadi, sungai ternyata memiliki arti penting bagiku. Setelah melihat kilas balik perjalanan hidupku ke belakang mulai usia balita, sungai selalu menjadi bagian penting di hidupku.
Banjarmasin. Waktu itu usiaku sekira 3 tahun ketika pindah ke ibukota Propinsi Kalimantan Selatan ini. Sebagai kota yang dialiri oleh banyak sungai besar seperti Martapura, Barito dan belasan sungai kecil lainnya membuat kota ini mirip Venisia versi Kalimantan. Aku tinggal di Jalan Bandarmasih Kompleks DPR. Di depan rumah di mana aku tinggal ada sebuah sungai besar yang sering meluap airnya ketika air pasang. Sungai ini tidaklah bening, warnanya coklat lumpur dan kadang terlihat gerombolan eceng gondok yang menutup permukaannya. Sungai ini seperti saluran yang menghubungkan sungai Martapura dan Barito. Sungai ini memiliki lebar 28 meter. Terkadang kalau sore, dari atas jembatan kita bisa melihat kawanan pesut atau ikan pedang yang bermain di bawah jembatan.
![]() |
| Sungai Tepi Jalan Bandarmasih Kompleks DPR |
Banyak kenangan yang aku lewatkan bersama sungai ini. Berenang dengan bebek-bebekan bersama Bapak, adalah salah satu di antaranya. Kadang kami harus berhati-hati, karena sungai ini jadi area perlintasan speed boat. Ada kejadian yang tidak bisa kulupakan. Waktu itu di tepi sungai, ada sebuah lapangan landai bertanah lempung, tempat teman-teman biasa bermain. Suatu ketika, air pasang dan kami bermain di sana. Ada teman yang kasih perahu kayu dan menyerahkan ke aku. Aku peganglah isi di dalam perahu kayu mainan tersebut. Secara tekstur nampak seperti tanah lempung, tapi setelah dicium kok agak berbau ya. Belakangan aku baru sadar itu adalah tokai alias T4i... Sialan.com telat tahunya.. heheh :)
Yang tidak kalah kapoknya, gara-gara bermain di tempat itu, sampai di rumah kena marah Bapak. Beliau marah besar sampai tangan melayang... *sensor* Intinya sih sudah dilarang main di tepi sungai. Tapi yang namanya passion dan demen sama penasaran beti 11-12 gitu deh. Walhasil kena marah. Dan berderailah air mataku sambil menahan sakit sisa hukuman di badan.
Yogyakarta 1. Kota yang terkenal sebagai Kota Pelajar Gudeg ini menjadi tujuan berikutnya. Beranjak ke kelas 2 SD, kami sekeluarga pindah ke Jawa. Kalau mendengar kata Yogya, yang terlintas adalah Merapi, Keraton dan Parangtritis. Itu benar, tapi selain itu Yogya juga memiliki banyak sungai, walaupun tidak sebanyak, dan selebar sungai Kalimantan. Orang Jawa biasanya menyebutnya kali. Sebut saja Kali Opak, Winongo, Gajahwong, Code.
Aku tinggal di Dusun Cungkuk, sebuah daerah pinggiran arah ke Wates yang dikelilingi area persawahan. Passion akan sungai dan airnya seolah sudah melekat di kepalaku. Setiap pulang sekolah, yang kulakukan setelah ganti pakaian adalah menyelinap ke luar rumah. Menuju.... kali... ehhe ^^ standard dan sudah bisa ketebak kali ya.
Ini bukanlah kali besar seperti di Kalimantan. Airnya cukup jernih, dengan dasar bebatuan kerikil dan airnya yang sejuk, kadang membuat kaki tergoda untuk menyentuhnya dan berlama-lama bermain dengannya. Ada beberapa kali kecil yang sering menjadi area jelajahku saat itu. Biasanya sendiri, karena teman-teman di Yogya tidak ada yang separno aku kalau lihat sungai. Salah satu sungai yang sering aku kunjungi bahkan dekat dengan peternakan babi. Tapi rasanya nyaman-nyaman saja bermain di sana. Walaupun baunya kadang menusuk juga, tapi air masih cukup bening.
Setelah beberapa kali nekat menjelajah kali yang kadang orang bilang kotor dan wingit (red-angker), membuat suasana hati serasa nyaman. Mungkin nostalgia pengalaman di Banjarmasin. Tapi akibatnya, kakiku korengan semua. Terkena penyakit kulit. Teman-teman biasa bilang kaki Robotcop, karena penampakannya seperti skrup-skrup yang bertebaran di seluruh kaki. Itu adalah resiko untuk sebuah P.A.S.S.I.O.N.
Yogyakarta 2. Sungai sepertinya sudah menjadi passion aku. Memasuki masa kuliah, aku kembali lagi ke Yogyakarta. (red- aku menghabiskan pendidikan SD sampai SMA di Semarang). Fakultas yang ku ambil nantinya juga tidak jauh berhubungan dengan sungai - Fakultas Biologi Universitas Kristen Duta Wacana.
Di masa kuliah pelajaran yang paling dinanti adalah praktikum lapangan. Khususnya yang pakai jalan-jalan ke luar kampus. Beberapa sungai yang menjadi obyek praktikum kami adalah Code dan Gajahwong. Pengalaman masa kecil bermain air sungai kembali lagi terulang. Tapi sekarang, kondisinya memang sangat berbeda. Sungai yang kami kunjungi bisa dibilang sudah tidak jernih lagi. Kadang ada sampah, warna keruh, berlumpur, berarus deras. Itu adalah resiko untuk sebuah P.A.S.S.I.O.N. Kami memang sedang melakukan simulasi pemantauan kualitas air yang tercemar.
![]() |
| Sungai Winongo Lokasi Penelitian Skripsi |
Tidak cukup sampai di situ. Obyek penelitian skripsi S1 aku kembali sungai. Kali ini aku mengamati kualitas air sungai Winongo dari hulu yang memasuki kota Yogyakarta hingga hilir yang mengarah ke pantai selatan. Kalau dipikir kembali, itu merupakan pekerjaan yang luar biasa. Mengambil sampel air di tengah hujan, harus turun ke tepi sungai yang licin, dalam dan kotor bercampur dengan limbah pabrik dan rumah tangga. Sangat beresiko jika diingat kembali saat ini. Tapi saat itu, sepertinya sebagai sesuatu yang biasa.
Jakarta. Selesai kuliah, aku hijrah ke Jakarta untuk bekerja di Fauna Flora International (FFI). Saat itu kami sedang ada proyek konservasi hutan mangrove di Suaka Margasatwa Muara Angke. Sungai yang bermuara di Muara Angke ini merupakan pecahan dari Ciliwung yang mengalir dari Banjir Kanal Barat dan Kali Angke. Secara kasat mata, lokasi ini berada di hilir sungai dan kembali harus bertemu dengan sungai Jakarta yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Sampah, sampah, sampah dan sampah.
![]() |
| Ciliwung, Kali Angke dan Teluk Jakarta |
Kali Angke adalah sebuah sungai dengan aliran nyaris tak terlihat setelah di bangunnya pintu air Cengkareng Drain. Kali Angke diibaratkan selokan atau got raksasa di Jakarta. Semua sampah warga dan limbah rumah serta pabrik dibuang di sini. Warna hitam adalah pemandangan khas setiap musim kemarau. Banjir tentu menjadi langganan setiap musim hujan atau ketika air laut pasang naik. Kali ini mengalir ke hilir dan bertemu dengan aliran Ciliwung dari Banjir Kanal Barat untuk akhirnya menggelontorkan sampah dan limbah ke Teluk Jakarta melalui Muara Angke. Kedua sungai inipun menjadi obyek penelitianku selama bekerja dengan FFI. Hasilnya tentu bisa bisa ditebak, sudah tidak sesuai dengan standard manapun di dunia a.k.a tercemar.
Passion untuk bekerja dengan sungai sepertinya tidak bisa hilang begitu saja. Selain melakukan penelitian kualitas air di Ciliwung dan Angke, bersama komunitas Transformasi Hijau, kami melakukan pemantauan kualitas air Kali Pesanggrahan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak tercemar. Sumber pencemarnya sangat beragam mulai dari sampah rumah tangga hingga buangan limbah industri rumah tangga, seperti pembuatan tahu tempe.
Dari semua sungai yang pernah aku kunjungi, Ciliwung memberi kesan tersendiri. Tumpukan gunung sampah tertinggi dan belum pernah aku lihat sebelumnya ada di bantaran Ciliwung. Ketika menelusuri Ciliwung bersama tim Jelajah Trans TV, pernah terbalik di sebuah jeram yang akhirnya aku sebut "Jeram Trans TV." Pernah terseret arus Ciliwung di Muara Angke karena nekat mendayung perahu karet yang overload untuk mengambil sample air bersama teman-teman Kelompok Studi Ekologi Perairan UNAS. Kalau yang terakhir ini P.A.S.S.I.O.N. sudah membuat aku menjadi bodoh .. ^^
Dan saat ini, aku dan beberapa teman-teman komunitas yang tergabung dalam Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta sedang memperjuangkan mimpi kami untuk sebuah Ciliwung yang bersih. Banyak hal telah kami mulai dari Aksi Mulung Sampah Hulu Hilir, dan Nimbrung di Ciliwung. Semua itu kami lakukan untuk membuat Ciliwung indah dan layak disebut sungai sama seperti masa jayanya. Bukan tempat sampah atau selokan seperti sekarang ini. Membawa Ciliwung sederajat bersih dan baiknya dengan sungai di negara Eropa is my P.A.S.S.I.O.N. (Hendra Aquan)




