Wednesday, 23 November 2011

River is My Passion

Sungai adalah salah satu jenis ekosistem air yang sudah akrab ditelinga kita. Secara pribadi, sungai ternyata memiliki arti penting bagiku. Setelah melihat kilas balik perjalanan hidupku ke belakang mulai usia balita, sungai selalu menjadi bagian penting di hidupku.

Banjarmasin. Waktu itu usiaku sekira 3 tahun ketika pindah ke ibukota Propinsi Kalimantan Selatan ini. Sebagai kota yang dialiri oleh banyak sungai besar seperti Martapura, Barito dan belasan sungai kecil lainnya membuat kota ini mirip Venisia versi Kalimantan. Aku tinggal di Jalan Bandarmasih Kompleks DPR. Di depan rumah di mana aku tinggal ada sebuah sungai besar yang sering meluap airnya ketika air pasang. Sungai ini tidaklah bening, warnanya coklat lumpur dan kadang terlihat gerombolan eceng gondok yang menutup permukaannya. Sungai ini seperti saluran yang menghubungkan sungai Martapura dan Barito. Sungai ini memiliki lebar 28 meter. Terkadang kalau sore, dari atas jembatan kita bisa melihat kawanan pesut atau ikan pedang yang bermain di bawah jembatan.

Sungai Tepi Jalan Bandarmasih Kompleks DPR
Banyak kenangan yang aku lewatkan bersama sungai ini. Berenang dengan bebek-bebekan bersama Bapak, adalah salah satu di antaranya. Kadang kami harus berhati-hati, karena sungai ini jadi area perlintasan speed boat. Ada kejadian yang tidak bisa kulupakan. Waktu itu di tepi sungai, ada sebuah lapangan landai bertanah lempung, tempat teman-teman biasa bermain. Suatu ketika, air pasang dan kami bermain di sana. Ada teman yang kasih perahu kayu dan menyerahkan ke aku. Aku peganglah isi di dalam perahu kayu mainan tersebut. Secara tekstur nampak seperti tanah lempung, tapi setelah dicium kok agak berbau ya. Belakangan aku baru sadar itu adalah tokai alias T4i... Sialan.com telat tahunya.. heheh :)

Yang tidak kalah kapoknya, gara-gara bermain di tempat itu, sampai di rumah kena marah Bapak. Beliau marah besar sampai tangan melayang... *sensor* Intinya sih sudah dilarang main di tepi sungai. Tapi yang namanya passion dan demen sama penasaran beti 11-12 gitu deh. Walhasil kena marah. Dan berderailah air mataku sambil menahan sakit sisa hukuman di badan.

Yogyakarta 1. Kota yang terkenal sebagai Kota Pelajar Gudeg ini menjadi tujuan berikutnya. Beranjak ke kelas 2 SD, kami sekeluarga pindah ke Jawa. Kalau mendengar kata Yogya, yang terlintas adalah Merapi, Keraton dan Parangtritis. Itu benar, tapi selain itu Yogya juga memiliki banyak sungai, walaupun tidak sebanyak, dan selebar sungai Kalimantan. Orang Jawa biasanya menyebutnya kali. Sebut saja Kali Opak, Winongo, Gajahwong, Code. 

Aku tinggal di Dusun Cungkuk, sebuah daerah pinggiran arah ke Wates yang dikelilingi area persawahan. Passion akan sungai dan airnya seolah sudah melekat di kepalaku. Setiap pulang sekolah, yang kulakukan setelah ganti pakaian adalah menyelinap ke luar rumah. Menuju.... kali... ehhe ^^ standard dan sudah bisa ketebak kali ya. 

Ini bukanlah kali besar seperti di Kalimantan. Airnya cukup jernih, dengan dasar bebatuan kerikil dan airnya yang sejuk, kadang membuat kaki tergoda untuk menyentuhnya dan berlama-lama bermain dengannya. Ada beberapa kali kecil yang sering menjadi area jelajahku saat itu. Biasanya sendiri, karena teman-teman di Yogya tidak ada yang separno aku kalau lihat sungai. Salah satu sungai yang sering aku kunjungi bahkan dekat dengan peternakan babi. Tapi rasanya nyaman-nyaman saja bermain di sana. Walaupun baunya kadang menusuk juga, tapi air masih cukup bening.

Setelah beberapa kali nekat menjelajah kali yang kadang orang bilang kotor dan wingit (red-angker), membuat suasana hati serasa nyaman. Mungkin nostalgia pengalaman di Banjarmasin. Tapi akibatnya, kakiku korengan semua. Terkena penyakit kulit. Teman-teman biasa bilang kaki Robotcop, karena penampakannya seperti skrup-skrup yang bertebaran di seluruh kaki. Itu adalah resiko untuk sebuah P.A.S.S.I.O.N.

Yogyakarta 2. Sungai sepertinya sudah menjadi passion aku. Memasuki masa kuliah, aku kembali lagi ke Yogyakarta. (red- aku menghabiskan pendidikan SD sampai SMA di Semarang). Fakultas yang ku ambil nantinya juga tidak jauh berhubungan dengan sungai - Fakultas Biologi Universitas Kristen Duta Wacana. 

Di masa kuliah pelajaran yang paling dinanti adalah praktikum lapangan. Khususnya yang pakai jalan-jalan ke luar kampus. Beberapa sungai yang menjadi obyek praktikum kami adalah Code dan Gajahwong. Pengalaman masa kecil bermain air sungai kembali lagi terulang. Tapi sekarang, kondisinya memang sangat berbeda. Sungai yang kami kunjungi bisa dibilang sudah tidak jernih lagi. Kadang ada sampah, warna keruh, berlumpur, berarus deras. Itu adalah resiko untuk sebuah P.A.S.S.I.O.N. Kami memang sedang melakukan simulasi pemantauan kualitas air yang tercemar.

Sungai Winongo Lokasi Penelitian Skripsi

Tidak cukup sampai di situ. Obyek penelitian skripsi S1 aku kembali sungai. Kali ini aku mengamati kualitas air sungai Winongo dari hulu yang memasuki kota Yogyakarta hingga hilir yang mengarah ke pantai selatan. Kalau dipikir kembali, itu merupakan pekerjaan yang luar biasa. Mengambil sampel air di tengah hujan, harus turun ke tepi sungai yang licin, dalam dan kotor bercampur dengan limbah pabrik dan rumah tangga. Sangat beresiko jika diingat kembali saat ini. Tapi saat itu, sepertinya sebagai sesuatu yang biasa.

Jakarta. Selesai kuliah, aku hijrah ke Jakarta untuk bekerja di Fauna Flora International (FFI). Saat itu kami sedang ada proyek konservasi hutan mangrove di Suaka Margasatwa Muara Angke. Sungai yang bermuara di Muara Angke ini merupakan pecahan dari Ciliwung yang mengalir dari Banjir Kanal Barat dan Kali Angke. Secara kasat mata, lokasi ini berada di hilir sungai dan kembali harus bertemu dengan sungai Jakarta yang tidak pernah terbayang sebelumnya. Sampah, sampah, sampah dan sampah. 

Ciliwung, Kali Angke dan Teluk Jakarta

Kali Angke adalah sebuah sungai dengan aliran nyaris tak terlihat setelah di bangunnya pintu air Cengkareng Drain. Kali Angke diibaratkan selokan atau got raksasa di Jakarta. Semua sampah warga dan limbah rumah serta pabrik dibuang di sini. Warna hitam adalah pemandangan khas setiap musim kemarau. Banjir tentu menjadi langganan setiap musim hujan atau ketika air laut pasang naik. Kali ini mengalir ke hilir dan bertemu dengan aliran Ciliwung dari Banjir Kanal Barat untuk akhirnya menggelontorkan sampah dan limbah ke Teluk Jakarta melalui Muara Angke. Kedua sungai inipun menjadi obyek penelitianku selama bekerja dengan FFI. Hasilnya tentu bisa bisa ditebak, sudah tidak sesuai dengan standard manapun di dunia a.k.a tercemar.

Passion untuk bekerja dengan sungai sepertinya tidak bisa hilang begitu saja. Selain melakukan penelitian kualitas air di Ciliwung dan Angke, bersama komunitas Transformasi Hijau, kami melakukan pemantauan kualitas air Kali Pesanggrahan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak tercemar. Sumber pencemarnya sangat beragam mulai dari sampah rumah tangga hingga buangan limbah industri rumah tangga, seperti pembuatan tahu tempe.

Dari semua sungai yang pernah aku kunjungi, Ciliwung memberi kesan tersendiri. Tumpukan gunung sampah tertinggi dan belum pernah aku lihat sebelumnya ada di bantaran Ciliwung. Ketika menelusuri Ciliwung bersama tim Jelajah Trans TV, pernah terbalik di sebuah jeram yang akhirnya aku sebut "Jeram Trans TV." Pernah terseret arus Ciliwung di Muara Angke karena nekat mendayung perahu karet yang overload untuk mengambil sample air bersama teman-teman Kelompok Studi Ekologi Perairan UNAS. Kalau yang terakhir ini  P.A.S.S.I.O.N. sudah membuat aku menjadi bodoh .. ^^

Dan saat ini, aku dan beberapa teman-teman komunitas yang tergabung dalam Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta sedang memperjuangkan mimpi kami untuk sebuah Ciliwung yang bersih. Banyak hal telah kami mulai dari Aksi Mulung Sampah Hulu Hilir, dan Nimbrung di Ciliwung. Semua itu kami lakukan untuk membuat Ciliwung indah dan layak disebut sungai sama seperti masa jayanya. Bukan tempat sampah atau selokan seperti sekarang ini. Membawa Ciliwung sederajat bersih dan baiknya dengan sungai di negara Eropa is my P.A.S.S.I.O.N. (Hendra Aquan)

Tuesday, 15 November 2011

Cara Cuci Botol Bayi Ramah Lingkungan

Baking soda dapat membersihkan botol bayi sama halnya
pada baju bayi, binatang mainan dan tempat sampah diaper

Belajar cara mengasuh bayi sama pentingnya dengan pemahaman apa yang aman dikonsumsinya. Bayi perlu mendapatkan makanan (susu) dari botol dan cara meyuap yang sangat bersih. Jika Anda menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, tentu Anda bertanya, bagaimana melakukannya tanpa memilah cairan pembersih kimia atau menggunakan mesin pencuci piring yang tidak begitu penuh hanya untuk membilas beberapa buah botol. Solusinya, air panas dan baking soda yang dapat membantu Anda menjaga asupan si kecil bebas dari kuman. Proses pembersihan dan sterilisasi tutup botol merupakan hal yang perlu diperhatikan, sama halnya dengan bagian lainnya dari botol.

Langkah 1. Gosok dan bersihkan baskom atau panci Anda dengan baking soda atau garam meja dan air panas. Berdasarkan Badan Kesehatan Amerika (CDC), alat yang Anda gunakan untuk merendam botol bisa saja mengandung resiko kontaminasi jika tidak bersih.

Langkah 2. Masukkan semua bagian botol bayi ke dalam mangkok yang besar dan bersih kemudian diisi dengan air panas dan 1/2 kotak baking soda.

Langkah 3. Rendam botol dan bagiannya semalaman.

Langkah 4. Cuci tangan Anda dengan sabun dan air sebelum membersihkan botol pada keesokan harinya. Keringkan tangan Anda dengan kain yang bersih.

Langkah 5. Gosok botol dengan sikat botol yang bersih. Gunakan air panas dan baking soda atau sabun rendah residu. Lembaga Pangan PBB (FAO) menyarankan untuk menggunakan sabun untuk membersihkan botol. Lembaga Perlindungan Lingkungan Amerika (EPA) menyatakan bahwa baking soda dapat mengurangi peluang bayi untuk menelan residu bersabun.

Langkah 6. Bilas botol dengan air panas.

Langkah 7. Isi panci besar dengan air dan 3 sendok makan baking soda dan letakkan panci di atas kompor

Langkah 8. Masukkan botol dan semua bagiannya seperti karet penyedot dan tutupnya ke dalam panci dan tutup panci dengan rapat.

Langkah 9. Rebus panci selama 3 menit. 

Langkah 10. Diamkan panci dalam keadaan tertutup sampai Anda membutuhkannya. Ini untuk menjaga kondisi botol tetap steril. Gunakan penjepit untuk mengangkat botol dan bagiannya jika dibutuhkan. Pilihan lain, Anda bisa juga mengeluarkan isi panci dan mengeringkan dengan kain bersih atau handuk dan menyimpannya di tempat yang terbebas dari debu dan kontaminasi.

Diterjemahkan dari:
http://greenliving.nationalgeographic.com/natural-way-clean-baby-bottles-2726.html

Monday, 14 November 2011

Energi untuk Daur Ulang Botol Kaca vs Kaleng Aluminium vs Plastik


Hanya 6,8 persen saja plastik yang dapat didaur ulang,
tapi botol hampir semuanya bisa didaur ulang


Daur ulang tidak hanya menyelamatkan material yang dapat didaur ulang dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) - tapi juga mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan bagi lingkungan di sekitarmu. Berdasarkan Badan Perlindungan Lingkungan Amerika (EPA), kebanyakan limbah rumah tangga dapat didaur ulang, tapi rata-rata orang Amerika membuang lebih dari 513 Kilogram sampah setiap tahun. EPA melaporkan bahwa di samping menghemat penggunaan landfill di TPA, daur ulang kaca, aluminium dan plastik dapat menghemat sejumlah energi yang akan digunakan untuk pembuata produk baru dari material mentahnya.

Kaca
Sebagian besar kaca yang masuk ke dalam proses daur ulang digunakan untuk membuat botol baru. Daur ulang kaca meliputi penghancuran kaca menjadi pellet kecil, dikenal sebagai cullet. Perusahaan membuat barang baru dari sekitar 70 persen cullet, dicampur dengan material mentah untuk mendapatkan warna tertentu atau kualitas standard. Berdasarkan Institute Pengemasan Kaca, setiap 10 persen cullet dalam campuran mengurangi energi yang dibutuhkan untuk membuat kemasan baru mencapai 2 sampai 3 persen. Menggunakan lebih sedikit energi juga menolong peralatan perusahaan seperti ruang bakar untuk bertahan lebih lama.

Aluminium
Daur ulang aluminium merupakan proses yang paling efisien - perusahaan dapat melebur dan menggunakan kembali aluminium dari kemasan yang didaur ulang berulang kali dengan kehilangan sedikit kualitasnya. Berdasarkan Asosisasi Aluminium, pembuatan sebuah kaleng aluminium membutuhkan hanya 5 persen dari energi yang dibutuhkan untuk membuat kaleng baru dari biji bauxite. EPA memperkirakan bahwa daur ulang 1 ton aluminium dapat menghemat sekitar 32 barrel minyak, secara signifikan mengurangi jejak karbon dari proses industri.

Plastik
Program daur ulang plastik terdapat di seluruh Amerika; salah satu jenis plastik yang sering dikumpulkan adalah jenis No. 1 - polyethylene terepthalate (PET). Lumrah digunakan sebagai kemasan makanan, PET didaur ulang dari produk seperti pembuatan karpet dan jaket. Proses ini membutuhkan sekitar sepersepuluh dibandingkan membuat plastik dari bahan mentah. Bagaimanapun juga, berdasarkan perubahan struktur dalam proses daur ulang, banyak plastik menjadi produk yang berbeda setelah didaur ulang. 

Keuntungan Lain dari Daur Ulang. 
Proses daur ulang dapat menghemat energi, pemakaian sumber daya alam dan dampak lingkungan dapat menjadi berkurang. Daur ulang alunium mengurangi kebutuhan pada biji bauksit yang ditambang, di sisi lain mampu mengurangi pencemaran lingkungan dalam proses menambangnya. Plastik adalah material yang mungkin tidak semudah aluminium untuk di daur ulang. Hasil penelitian terbaru menunjukkan minyak yang berasal dari plastik, sebuah sumberdaya tidak terbaharui. Produksi kaca menggunakan material mentah seperti pasir kwarsa, dalam proses ini energi dapat dihemat oleh perusahaan melalui dengan melakukan daur ulang kaca yang dapat mengurangi karbon yang diemisikan


Bacaan lebih lanjut:
Tire Recycling Machine www.3E-Recycling.com
China Tire Recycling Machinery Granulator.Capacity 300-10000 Kg/H

Plastic Scrap Supply dominorecycling.com
Virgin plastics, regrind, pellets repro, purge, nylon, film, resins

PET Plastic Recycling www.recycle.net
Buy or Sell PET Plastic Scrap PET Bottle Recycling, Waste PET

Plastic Forum www.plastic-forum.com
Plastic Molding Solution Forum Molding supplier, Mold Maker world.

Diterjemahkan dari:
http://greenliving.nationalgeographic.com/energy-recycle-glass-bottles-vs-aluminum-cans-vs-plastic-2376.html

Sunday, 13 November 2011

Berapa Banyak Penghematan Energi Dari Proses Daur Ulang?


Daur ulang 5 botol PET ukuran 2 liter
menghasilkan fiber yang cukup digunakan
untuk pembuatan sebuah jaket ski  

Tujuan utama gerakan daur ulang adalah untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga yang akan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Daur ulang juga berguna untuk menghemat sumber yang berharga, pengurangan kebutuhan material mentah dalam pembuatan barang konsumsi. Penggunaan material daur ulang dapat juga menurunkan biaya belanja energi perusahaan. 

Aluminium
Salah satu bentuk daur ulang yang paling efisien adalah daur ulang aluminium. Aluminium dapat digunakan berulang kali dan membutuhkan sangat sedikit tahapan proses untuk dapat digunakan kembali dalam wujud yang baru. Perusahaan biasanya akan melebur potongan kecil aluminium daur ulang dan menambahkannya ke material aluminium baru tanpa mempengaruhi aluminium baru yang dihasilkan. Berdasarkan USEPA (Badan Perlindungan Lingkungan Amerika), daur ulang sebuah kaleng aluminium membutuhkan kurang dari 5 persen energi yang akan digunakan pada pembuatan kaleng yang serupa yang menggunakan material biji bauxite baru. Asosiasi Aluminium memperirakan bahwa energi yang tersimpan dalam daur ulang sebuah kaleng aluminium dapat menghidupkan televisi selama 3 jam.

Plastik
Tujuh jenis utama jenis plastik dapat ditemukan pada barang konsumsi, dan daur ulang dapat memperpanjang masa pakai sebagian besar barang tersebut. Daur ulang plastik membutuhkan hanya sepersepuluh energi yang dibutuhkan untuk membuat plastik baru dari material mentah, berdasarkan Mike Biddle, presiden MBA Polymers.

Kertas
Daur ulang kertas tidak hanya menghemat energi tapi juga menyelamatkan pohon, mengurangi jumlah karbon dioksida yang akan terlepas ke atmosfer. EPA memperkirakan bahwa produksi sebuah kertas daur ulang membutuhkan hanya 60 persen energi yang dibutuhkan untuk membuat kertas baru dari bubur kertas baru, dan Lembaga Energi Amerika melaporkan bahwa daur ulang satu ton kertas dapat menyelamatkan 17 pohon. Daur ulang kertas juga membutuhkan sekitar setengah volume air yang digunakan pada proses pembuatan kertas dari pohon.

Kaca
Daur ulang kaca dikatakan tidak begitu efisien dibandingkan cara daur ulang material sebelumnya, ini disebabkan prosesnya perlu mengembalikan kondisi material kaca ke kondisi awalnya. Berdasarkan EPA, daur ulang kaca hanya dapat menghemat sekitar 30 persen biaya energi dari pembuatan kaca baru, dan material bahan baku membutuhkan sejumlah pasokan. Memakain kembali botol gelas, bagaimanapun juga tidak menggunakan energi sama sekali, jadi kita dapat mengurangi biaya energi dengan mengalih fungsikan pada fungsi baru dibandingkan membuangnya. Setiap kita membuang sebuah gelas, dibutuhkan waktu 1 juta tahun agar gelas tersebut hancur sama sekali di TPA.

Link rujukan:
November 18th 2011 www.shell.com/future-of-energy
Join the Economist & Shell Global Conversation - Use your Voice!

Satrind Spa www.satrind.it
Industrial shredders for RAEE treatment and recycling

Cartonboard MILL on sale www.pcentro.es
Recicled Cartonboard Mill on sale. 45.000 Tn /Y 180-550 gr m2

Plastic Forum www.plastic-forum.com
Plastic Molding Solution Forum Molding supplier, Mold Maker world.     

Diterjemahkan dari: 
http://greenliving.nationalgeographic.com/much-energy-recycling-save-2363.html

Saturday, 12 November 2011

Nimbrung di Ciliwung: Menggali Potensi Wisata Tepi Sungai


Ciliwung sebagai sungai lintas propinsi yang mengalir di Propinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta memiliki sisi lain yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Ciliwung banyak dikenal sebagai sungai yang kotor dan kumuh karena padatnya pemukiman penduduk di bantarannya, serta sering dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah. Selain fakta kerusakan yang dengan mudah ditemui, ternyata Ciliwung masih menyimpan potensi alam yang masih terjaga dengan baik, mulai dari keanekaragaman satwanya dan tumbuhannya.

Salah satu segmen Ciliwung yang masih terawat kondisi lingkungannya berada di Condet Balekambang. Kawasan ini ditetapkan oleh pemerintah DKI Jakarta sebagai Kawasan Cagar Budaya yang dimanfaatkan untuk tempat perlindungan salak condet. Salak condet merupakan buah asli Jakarta dan digunakan sebagai lambang kota Jakarta.


Alih fungsi lahan di bantaran Ciliwung sebagai tempat pembuangan sampah ilegal dan perumahan telah membuat lahan budidaya salak condet semakin berkurang dan hanya tersisa di kawasan Balekambang Condet saja. Potensi lingkungan ini layak untuk dipertahankan dan dijaga kelestariannya, karena selain penting bagi salak condet, beberapa satwa yang identik dengan bantaran sungai seperti burung air, monyet dan biawak masih dapat ditemui dengan mudah di kawasan ini.


Upaya penyelamatan ini tentu membutuhkan dukungan dan kepedulian dari semua pihak. Oleh karena itu dalam rangka peringatan Hari Pohon sedunia, 21 November 2011, jejaring komunitas Jakarta berinisiatif untuk melakukan kegiatan bersama. Kegiatan yang dinamakan Nimbrung di Ciliwung merupakan ajang berkumpul komunitas yang mengerjakan berbagai isu mulai dari lingkungan, pendidikan hingga seni. Tidak hanya komunitas, kegiatan yang disiapkan panitia gabungan antar komunitas ini juga ingin mengajak warga Jakarta untuk ikut terlibat di dalamnya.


Nimbrung di Ciliwung dikemas dengan konsep wisata pendidikan. Materi pendidikan ramah lingkungan akan diberikan secara yang atraktif melalui dongeng dan diikuti dengan penerapannya seperti memilah sampah dan menanam salak condet. Selain mendapatkan informasi tentang gaya hidup ramah lingkungan, peserta juga dapat mencoba beberapa paket wisata yang ke depan akan dikembangkan di Ciliwung Condet, seperti jelajah kampung, jelajah Ciliwung dengan kano, menanam salak condet dan mencicipi aneka masakan tradisional khas Betawi.Kini sudah saatnya usaha penyelamatan lingkungan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Semakin beragamnya cara sosialisasi yang digunakan, tentu bisa menyasar kelompok masyarakat yang lebih luas lagi. Kepedulian warga akan kelestarian lingkungan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal warga Jakarta untuk menghormati dan melestarikan Ciliwung serta potensi yang dimilikinya. (Hendra Aquan)

Tuesday, 8 November 2011

Daur Ulang Kaleng Aluminium Versus Plastik


Lebih dari setengah kaleng aluminium di daur ulang setiap tahun

Kaleng aluminium dan plastik merupakan material yang sering di daur ulang di Amerika, berdasarkan Lembaga Perlindungan Lingkungan Amerika (Environmental Protection Agency – EPA). Daur ulang plastik dan aluminium mengurangi kebutuhan lahan penampungan sampah akhir (TPA) dan mengurangi  emisi gas rumah kaca. Kedua material tersebut memiliki tahapan proses daur ulang yang sama: pengumpulan dan pengiriman ke tempat pengolahan.  Plastik membutuhkan tahapan pemilahan yang lebih panjang dibandingkan dengan kaleng aluminium, tapi material yang dihasilkan memiliki banyak kegunaan nantinya.  

Fakta Menarik
Plastik diperkirakan lebih dari 12 persen dari total jumlah sampah domestic yang dihasilkan, di mana sebanding dengan 30 juta ton per tahun. Bagaimanapun juga, hanya sekitar 7 persen dari plastik yang dapat digunakan dari proses daur ulang, jelas EPA. Jenis barang plastik yang sering di daur ulang meliputi botol dan toples madu.
Aluminium produk berjumlah 1,4 persen dari jumlah sampah warga. Sebagian besar berasal dari kaleng minuman dan kemasan lainnya. Tahun 2009 lebih dari setengah kaleng aluminium yang diproduksi berasal dari aluminium daur ulang. Daur ulang aluminium menghemat 95 persen lebih sedikit dibandingkan jika membuatnya dari bahan baku; daur ulang plastik menghemat sekitar 70 persen energi lebih sedikit daripada membuatnya dari material baru.

Daur Ulang Aluminium
Dalam proses pemilihan, kaleng aluminium dicek kondisinya apakah kotor atau tidak dan dipisahkan dari kemasan makanan atau minuman lainnya. Setelah proses pembersihan, kaleng aluminium dilebur menjadi blok metal yang disebut ingot. Blok aluminium ini kemudian dikirimkan ke perusahaan untuk menjadi bahan pembuatan kaleng aluminium yang baru.

Daur Ulang Plastik
Banyaknya jenis plastik diperlukan proses pemilahan sebelum daur ulang. Kode resin yang tertera di bagian bawah dari produk plastik, menandakan jenis plastiknya. Pekerja daur ulang akan membersihkan dan memilih plastik. Digunakan mesin untuk menghancurkannya menjadi serpihan dan kemudian direndam di tanki pencucian untuk menghilangkan kontaminasi. Setelah serpihan plastik ini kering, kemudian dilebur dan dibentuk menjadi pellet. Perusahaan akan membeli pellet ini yang kemudian akan dilebur lagi dan dibentuk menjadi produk baru.

Pembeli Produk Daur Ulang
Ketika jumlah aluminium daur ulang yang diubah menjadi kaleng baru, terjadi peningkatan permintaan aluminium yang digunakan pada industri mobil. Suku cadang kendaraan dari bahan aluminium memiliki bobot ringan dan meningkatkan efisiensi bahan bakar untuk kendaraan. Perusahaan pakaian, perabotan, botol minuman, tekstil dan karpet membutuhkan plastik daur ulang. Industri daur ulang plastik ini banyak dilakukan di Amerika, tapi pusat daur ulang tidak menerima jumlah plastik yang layak didaur ulang secara mencukupi untuk mendukung industri daur ulang ini tetap berjalan

Bacaan Lebih Lanjut

Aluminum Recycling Line www.3E-Recycling.com
By Physical Processing,Eco-Friendly From China.Hot in America & Europe

plastic recycling Ksplas.com/PET-Recycling
Quality Recycling Line,Easy Operate Specialized Plastic Machinery Offer

Rio Tinto Alcan www.rtapublicsales.riotinto.com
New website describes our global primary aluminium products offering

Harris Metal Shredders www.harrisequip.com
Process auto scrap, white goods, aluminum, and secondary metals 

Diterjemahkan dari: 
http://greenliving.nationalgeographic.com/recycling-aluminum-cans-versus-plastic-2375.html?source=glhottopic

Saturday, 5 November 2011

Nimbrung di Ciliwung


Jumat, 4 November 2011. Tahukah Anda, bahwa setiap tanggal 21 November diperingati sebagai Hari Pohon. Peringatan ini memang belum begitu didengar seperti halnya Hari Bumi atau Hari Lingkungan. Berdasarkan pertimbangan ini, beberapa komunitas yang bergerak diisu lingkungan urban Jakarta mencoba mengenalkannya kepada warga jakarta.

Bertempat di Komunitas Ciliwung Condet (KCC) Balekambang, sekitar 10 perwakilan komunitas lingkungan Jakarta merencanakan kegiatan sebagai peringatan Hari Pohon. Ke 10 komunitas tersebut antara lain berasal dari TRASHI, KCC, Koalisi Pemuda Hijau (KOPHI), Sampoerna School of Education (SSE), Teens Go Green (TGG), Jakarta Glue, Line Magic Community (LMC), KEHATI dan Komunitas Fotografer. 

Rapat Persiapan Kegiatan oleh Perwakilan Komunitas 
di Komunitas Ciliwung Condet (Foto: Hendra Aquan)

Kegiatan yang direncanakan akan dilangsungkan pada Minggu, 20 November 2011 ini mencoba mengemas peringatan hari lingkungan menjadi sesuatu yang menarik dan tidak membosankan. Atas dasar pertimbangan ini, beberapa komunitas yang terlibat mencoba mengajak komunitas jejaringnya untuk juga terlibat dalam kegiatan. Tidak hanya isu lingkungan saja, panitia gabungan juga mencoba memberikan nuansa yang berbeda, seperti melibatkan komunitas budaya, pendidikan dan tentunya seni.

Beberapa bocoran kegiatannya, para peserta akan disuguhkan sulap dan sesi khusus untuk mendengar pantun Betawi. Tidak ketinggalan, informasi gaya hidup ramah lingkungan mulai dari pengurangan sampah sampai dengan penyelamatan keanekaragaman hayati dapat diperoleh peserta di stand komunitas nantinya.

Semangat yang dibangun ini merupakan upaya beberapa komunitas di Jakarta untuk berjejaring dan melakukan aksi penyelamatan Ciliwung melalui berbagai cara. Tentunya cara yang ditempuh tidak harus melulu kampanye di jalan, tapi juga mengajak warga Jakarta untuk bermain langsung di tepi Ciliwung.
Peringatan Hari Pohon ini mengambil tema "Nimbrung di Ciliwung." Tema tersebut merupakan penyemangat dari jejaring kerja yang sedang dikembangkan di Ciliwung dari hulu sampai hilir. Sekarang sudah saatnya penyelamatan Ciliwung dilakukan oleh setiap orang yang peduli akan kelestariannya. Jadi tunggu apalagi? Kami tunggu kehadiran teman-teman untuk Nimbrung di Ciliwung. (Hendra Aquan)

Monday, 21 March 2011

Pedulikan Anda Pada Setetes Air?


Pencemaran Limbah Batik di Laweyan, Solo (Foto: Hendra Aquan)

Air merupakan sumberdaya alam yang luar biasa. Hampir 80% komposisi tubuh manusia adalah zat cair. Jika manusia kekurangan air, akan berakibat fatal bagi fungsi dasar tubuh. Fakta ilmiah menunjukkan bahwa ketersediaan air di bumi tidak pernah berkurang. Melalui siklus hidrologi, air melalui masa daur ulang. Air yang sudah digunakan oleh mahluk hidup, kemudian masuk ke dalam sistem pengairan besar, seperti sungai dan laut, untuk kemudian menguap, jadi awan dan turun kembali menjadi hujan dan siap dikonsumsi kembali.

Semua proses tersebut terjadi di dalam tempat yang kita kenal sebagai bumi. Seiring dengan cerdasnya manusia, kondisi lingkungan pun semakin tidak sehat. Maraknya pencemaran sumber air karena limbah perusahaan yang tidak diolah ke sungai-sungai sumber air minum warga. Rusaknya mata air pegunungan karena alih fungsi lahan dan penebangan hutan secara illegal. Pemanfaatan sungai sebagai WC umum dan tempat pembuangan sampah terpanjang. Dan daftar ini semakin lama semakin bertambah panjang. Dampak yang ditimbulkan secara langsung maupun tidak langsung.

Pernah kita berpikir sejenak, tentang perilaku kita yang jahat terhadap air. Kita tidak pernah menganggap air sebagai sesuatu yang berharga. Sampai saat ini kita masih memperolehnya secara “gratis.” Seberapa pedulikah manusia pada kelestarian sumberdaya alam yang masih bisa diperoleh secara bebas dan hampir tidak mengeluarkan uang sepeser-pun?

Jika suatu saat kita harus membayar setiap tetes air yang kita gunakan, tentu kita akan berpikir dua kali saat menggunakan air. Jika kita harus membayar air, masihkan manusia akan membuang 10 liter air secara percuma hanya untuk mandi? Jika kita harus membeli air, apakah kita tega mengotori sumber air yang tersisa dengan air limbah kita?

Dalam rangka peringatan hari air ini, marilah kita melihat kembali semua gaya hidup kita yang tidak ramah air. Mulailah dari hal yang paling kecil. Kita tidak perlu menjadi manusia sempurna untuk melakukan penyelamatan air. Mandilah secukupnya, pertimbangkan setiap tetes air yang akan kita gunakan. 

Ketika seorang manusia sudah menghargai setiap tetes air yang digunakan, dia sudah belajar untuk menghargai kehidupan mahluk lain di muka bumi ini. Selamat menyambut hari air, selamatkan sumber air, selamatkan kehidupan. (Hendra Aquan)

Sunday, 6 March 2011

Awalnya adalah Sebungkus Permen, Tapi…

Sungai yang mengalir di Jakarta merupakan tempat sampah kedua selain Bantar Gebang. Lihatlah ke 13  sungai yang mengaliri Jakarta pasti dijejali oleh sampah warganya siang dan malam. Jenis sampahnya pun sangat beragam, mulai dari limbah rumah tangga sampai limbah industri. Semua bercampur menjadi satu. Saking banyaknya, jumlah sampah yang masuk diperkirakan mencapai 27.000 meter kubik atau setara dengan volume sebuah candi Borobudur dalam waktu 2 hari.


Sampah yang selama ini kita lihat ringan, seperti sebungkus permen, sekantong tas plastik, sebotol air kemasan, namun jika semua warga Jakarta membuang jenis yang sama, maka bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang akan menumpuk. Sampah tersebut kemudian mengendap di Teluk Jakarta, menyebabkan pendangkalan serta penurunan kualitas air di perairannya. Kondisi ini memaksa nelayan Jakarta untuk mencari ikan di wilayah yang lebih bersih dari pencemaran. Tidak hanya di wilayah terluar Jakarta bahkan sampai perairan Sumatra karena kondisinya yang relatif bersih dibandingkan dengan perairan Jakarta.

Untuk membuktikan sejauh mana sampah penduduk kota telah mencemari Teluk Jakarta, silahkan berwisata ke Kepulauan Seribu. Di pantai-pantai yang disinggahi pasti akan terlihat secuil benda yang kerap kita gunakan di rumah dan seharusnya tidak berada di pesisir pantai yang bersih.

Sebaran sampah yang terbawa oleh arus laut dan terdampar di Kepulauan Seribu merupakan bukti bahwa sampah tidak akan lenyap dalam waktu singkat. Banyaknya jenis sampah plastik semakin memperburuk kondisi ini. Tidak hanya keindahan pantai yang terganggu, tapi juga kehidupan hewan liar yang tergantung pada laut semakin terancam.

Keberadaan sampah plastik bisa menjebak ikan atau burung dan bisa berakibat kematian. Sampah kini sudah menjadi teroris bagi lingkungan. Rantai makanan ekosistem laut akan terganggu, nelayan akan susah mencari nafkah, keluarga nelayan dan penjual ikan tidak mampu lagi membiayai hidup. Sebuah lingkaran sebab akibat yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sungguh mengerikan...

Dari beberapa penuturan orang tua yang tinggal di muara sungai Angke mengungkaplan bahwa kondisi sungai tersebut pada tahun 1970 – 1980an sangat baik. Pak Musa (70 tahun )seorang sesepuh Kapuk Muara menceritakan bahwa warga  bisa mencari ikan dengan mudah, air bisa langsung diminum, dasar sungai terlihat dan air terasa segar. Namun kondisi saat ini sangat memperihatinkan. Sungai yang berwarna hitam dan berbau, tumpukan sampah yang mengalir, sungai yang dangkal merupakan pemandangan yang kerap dijumpai di tepian sungai Angke.

Ibu Ida (54 tahun) seorang anggota Komunitas Seven Moms bercerita bahwa warga Kapuk Muara kini menyadari bahwa membuang sampah ke sungai akan membawa dampak buruk bagi lingkungan. Kualitas air sungai yang buruk akan mempengaruhi kualitas air tanah yang dimiliki warga.Dari beberapa lokasi sumur, Nampak airnya berbau dan berwarna hitam pekat. Buruknya kondisi air tanah ini, membuat warga Kapuk Muara kini hanya mengandalkan air PDAM untuk mandi serta konsumsi.

Kualitas air sungai dan air tanah yang buruk di Kapuk Muara ini sering dikeluhkan warga yang tinggal di tepian Kali Angke. Agar terlepas dari kondisi lingkungan yang tidak sehat ini, mereka bertekad untuk memulai hidup ramah lingkungan dengan mengolah sampahnya dan melakukan kampanye “banjir tanpa sampah”.  Berangkat dari komitmen tersebut, Ibu Ida besera teman-temannya yang tergabung dalam Seven Moms mengkampanyekan gaya hidup ramah sampah. Untuk membuat warga tertarik pada ide ini, mereka menggunakan slogan “Sampah adalah harta yang tertunda”.  Tergerak oleh himbauan ini, kini beberapa warga mulai mengubah perilakunya dalam mengelola sampah.

Pengalaman di atas merupakan tindakan nyata yang bisa dilakukan oleh warga tepian Kali Angke untuk menyelamatkan lingkungan dan manusia. Sebuah tindakan yang sederhana dengan tidak membuang sampah ke sungai ataupun membakarnya. Sampahyang dikumpulkan kemudian diolah secara layak. Beberapa bisa menjadi wujud barang yang menarik dan bisa memperpanjang usia pakainya sebelumnya akhirnya akan menjadi sampah.

Di balik semua ini, yang paling mendasar adalah mengubah pola pikir dan kebiasaan kita dalam mengelola sampah. Kepedulian sekecil apapun yang diikuti dengan sebuah tindakan akan memberikan dampak yang luar biasa dibandingkan ide yang sempurna tapi tidak pernah dilakukan. Menyambut Hari Air 2011 ini, apa komitmenmu untuk lingkungan kita? (Ahmad Fadilah – Ichay)

Friday, 25 February 2011

Menentukan Kehidupan di atas Sampah


Warga membuang sampah di tepi Ciliwung Jakarta
Setiap hari manusia pasti memproduksi sampah, baik secara alami maupun buatan. Sampah merupakan materi sisa yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi. Secara alami tubuh manusia membuang materi berbahaya dari dalam tubuh melalui kencing, keringat dan kotoran manusia. Setiap hari, sampah alami tersebut dibuang ke lingkungan. Karena bersifat alami sehingga mudah diurai, sampah ini praktis tidak membawa pengaruh besar bagi lingkungan.

Sampah buatan manusia merupakan jenis sampah yang berbahaya. Sampah ini bertahan lama di alam dan sangat sukar diurai oleh proses alami. Sampah ini berwujud padat, cair hingga gas. Sebagian besar bahan dasar penyusunnya merupakan zat buatan manusia yang tidak dikenali oleh sistem pengurai alami. Sehingga bisa menyebabkan sampah jenis ini bertahan lebih dari seratus tahun. Jika tidak dikelola dengan tepat, sampah yang membawa sifat racun dapat menyebabkan kematian bagi lingkungan maupun manusia.

Sampah alami dan buatan ini setiap hari selalu dibuang ke lingkungan. Tapi jumlah sampah yang bisa dikurangi tidak sesuai dengan yang dihasilkan. Keadaan seperti ini sesuai dengan kata pepatah ”Besar pasak daripada tiang.” Dari tahun ke tahun tren jumlah sampah yang dihasilkan bukannya mengalami penurunan, justru mengalami peningkatan.

Jakarta sebagai kota besar dengan jumlah penduduk mencapai 9 juta jiwa sudah tidak mampu lagi menanggung beban sampah padat yang dihasilkan warganya. Jika setiap penduduk menghasilkan setengah kilogram sampah per harinya, maka diperkirakan berat sampah kota Jakarta mencapai 4.500 ton. Berat ini setara dengan berat 900 ekor Gajah Sumatera dewasa. Sebuah angka yang fantastis. Berdasarkan dari volume sampah yang dihasilkan, penduduk Jakarta memproduksi sampah padat tidak kurang dari 27.000 m3 setiap hari. Angka ini mungkin susah jika dibayangkan. Apabila dianalogikan, volume sampah tersebut bisa digunakan untuk membangun sebuah candi Borobudur yang volumenya 55.000 m3 dalam waktu dua hari. Ini adalah jumlah sampah yang luar biasa banyaknya. Setiap hari kita menimbun jumlah sampah yang luar biasa banyaknya. Ilustrasi tersebut belum termasuk sampah cair dan gas yang belum bisa diketahui jumlahnya secara pasti.

Saking banyaknya timbulan sampah yang dihasilkan dan sampai saat ini belum ada penanganan sampah yang ideal, tidak aneh jika kita kerap melihat praktek pengolahan sampah secara ilegal. Pembakaran, penimbun sampah di tepian sungai dan ada juga yang dengan sengaja membuang sampah ke sungai merupakan cara yang dihalalkan untuk melenyapkan sampah. Sayangnya tidak semua jenis sampah memiliki karakteristik penanganan seperti demikian. Beberapa sampah perlu ditangani secara khusus, seperti aki bekas yang mengandung cairan asam keras dan timbal, lampu pendar yang mengandung merkuri, sampai sampah medis yang mengandung bakteri dan virus berbahaya. Sampah-sampah dengan jenis seperti ini perlu penanganan khusus.

Pendapat yang banyak beredar di warga Jakarta adalah jika sampah sudah keluar dari rumah dan diangkut tukang sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS), maka semua masalah sudah selesai. Namun ada sisi lain yang tidak semua orang mampu singkap. Fakta menunjukkan bahwa dampak kerusakan yang ditimbulkan dari penanganan sampah secara ilegal ini justru jarang terjadi di sumber sampah. Banyak kasus pencemaran lingkungan terjadi di tempat lain. Banjir karena pendangkalan sungai oleh sampah merupakan hal yang kerap kita lihat saat musim penghujan tiba. Di daerah hilir, nelayan pesisir utara Jakarta harus merugi setiap tahun, karena sampah plastik dan limbah industri dari wilayah hulu mencemari Teluk Jakarta dan menyebabkan kematian ikan tangkapan mereka. Tidak hanya mengancam manusia, sampah juga mengancam spesies dan ekosistem hutan mangrove terakhir Jakarta yang menjadi kawasan peresapan air. Jika dirunut dari satu ke kasus yang lain, kita menemukan sebuah benang merah, yaitu tidak adanya kepedulian warga Jakarta pada hal yang berhubungan dengan sampah. 

Informasi tentang cara penanggulangan sampah sebenarnya sering kita dengar. Bahkan sebagian warga Jakarta sudah mengetahuinya melalui himbauan pemerintah, iklan, media massa maupun lembaga pendidikan. Tapi, informasi berharga itu seolah dianggap angin lalu saja, karena toh tidak berdampak secara langsung pada kehidupan sehari-hari.
Mengusung isu lingkugan ke dalam ranah publik merupakan perjuangan yang menantang. Ada sebuah anekdot yang menyindir bahwa selama manusia belum sejahtera, maka kelestarian lingkungan dinomor duakan. Jelas bahwa kepentingan ekonomi adalah lebih utama dibandingkan kepentingan ekologi (lingkungan). Secara teori, kedua hal tersebut saling berkaitan dan mendukung, tapi mengapa dalam prakteknya kita sering mendewakan ekonomi sebagai segala-galanya?

Sejenak kita coba melihat sejarah. Pada zaman purba, nenek moyang manusia juga sudah mengenal sampah. Mereka mengelola sampah dengan cara ditimbun dan dibakar. Cara seperti ini masih memungkinkan karena jumlah manusia masih sedikit dan yang perlu digaris bawahi, jenis makanan yang mereka konsumsi bisa dengan mudah diuraikan oleh tanah. Evolusi manusia yang terjadi secara fisik dalam jangka ribuan tahun, sayangnya belum berhasil melakukan evolusi pada konsep penanganan sampah. Berjuta-juta tahun kemudian, setelah peradaban manusia semakin maju, cara penanganan sampah masih melestarikan teori pengelolaan sampah purba. Cara purba seperti itu seharusnya sudah tidak layak diterapkan dalam penanganan sampah abad 21 ini. 
Kita kerap melihat orang membakar sampah di kebun maupun tempat sampah setiap hari. Dan ini nampaknya sudah menjadi kebiasaan yang akut. Belum semua orang menyadari bahwa pembakaran plastik pada suhu yang tidak sesuai berpotensi untuk melepaskan zat racun yang bernama dioksin. Zat ini berpotensi memicu timbulnya kanker pada manusia. Tidak hanya dioksin, proses pembakaran sampah juga menghasilkan karbondioksida yang merupakan salah satu gas penyebab pemanasan global. 

Jika demikian masalahnya, apakah ada solusi yang ramah lingkungan? Konsep 3 R yang dijabarkan sebagai reduce (mengurangi), reuse (memakai kembali), recycle (daur ulang) merupakan jalan keluarnya. Dari ketiga tahapan tersebut, selalu utamakan reduce dalam penanganan sampah. Bagaimana kita bisa menanggulangi sampah apabila jumlah sampah yang dihasilkan tidak pernah berhenti? Tips praktis adalah bawa tas belanja sendiri saat berbelanja. Secara tidak langsung kita sudah mengurangi jumlah plastik yang akan kita buang ke tempat sampah. 

Langkah selanjutnya usahakan memakai kembali (reuse). Reuse merupakan upaya untuk memaksimalkan masa pakai sebuah benda sebelum benar-benar tidak berfungsi dan harus berakhir di tempat sampah. Ketiga, barang-barang yang sudah tidak layak pakai dan fungsi bisa kita daur ulang (recycle). Daur ulang berguna untuk mengambil kembali bahan material dasar yang bisa digunakan untuk diproses menjadi barang baru. Botol air minum kemasan merupakan plastik jenis PET. Plastik jenis ini masih bisa dihancurkan menjadi biji plastik untuk dibuat menjadi barang baru kembali.

Sampah merupakan masalah klasik yang membutuhkan cara penyelesaian yang menarik. Pendidikan cinta lingkungan beberapa tahun belakangan ini semakin gencar dilakukan. Baik pada tingkatan siswa sekolah maupun masyarakat umum. Proses kesadaran ini terjadi setelah semakin banyaknya warga Jakarta yang peduli pada lingkungan. Berbagai upaya penyelamatan lingkugan mulai banyak bermunculan dengan kata-kata berbau hijau (green). Dalam prakteknya tidak jarang timbul keanehan yang menggelikan. Seolah terhipnotis oleh kata green, maka jika memakai baju berwarna hijau atau mengecat dinding rumahnya mereka sudah aktif dalam gerakan green. Ini adalah fakta yang bisa ditemui di tengah masyarakat kota Jakarta. Walau bagaimanapun semangat gerakan seperti ini patut didukung dan terus dikembangkan. Persepsi yang beraneka warna pada itu sudah lumrah, tapi satu hal yang layak jadi pegangan adalah jangan menjadikan kegiatan berbau hijau (green) tersebut hanya menjadi sebuah seremoni belaka, perlu ada tindakan nyata. Yang lebih dibutuhkan lingkungan saat ini adalah konsistensi kita sebagai aktor untuk menjalankan komitmen ramah lingkungan tersebut.

Banyak pendapat yang mengkotak-kotakkan bahwa isu lingkungan hanya bisa dilakukan oleh aktivis lingkungan saja. Pemahaman seperti ini sudah saatnya diubah. Karena masalah sampah adalah masalah kita bersama. Dalam hal ini tidak ada yang lebih ahli dari yang lain. Penanganan masalah sampah perlu kebersamaan dan komitmen untuk menjalaninya. Membawa tas belanja sendiri saat ke warung atau membawa botol minum saat bepergian sudah berperan besar mengurangi jumlah sampah yang akan membunuh lingkungan dan manusia.

Kasus kerusakan lingkungan yang besar, seperti perubahan iklim atau yang sering dikenal sebagai global warming sebenarnya berangkat dari sebuah hal yang sederhana. Dan penanganan sampah yang salah kaprah merupakan salah satu kontributornya. Saat ini sudah saatnya kita bertindak untuk melakukan sesuatu yang sederhana tapi bermakna. Percayalah bahwa satu tindakan sederhana yang kita lakukan, pasti akan menular ke orang lain. Semakin banyak manusia yang peduli pada kelestarian bumi, setidaknya masih ada harapan untuk menyelamatkan peradaban manusia setidaknya untuk satu hari. (Hendra Aquan)