Tuesday, 6 November 2007

Jakarta dan Sampahnya


Jakarta adalah propinsi dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar namun memiliki jumlah kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia. Dampak ikutannya adalah tingginya volume timbulan sampah setiap harinya. Produksi sampah kota Jakarta mencapai 6.000 ton per hari. Produsen sampah kota tersebut, berdasarkan jenis serta persentasenya, antara lain sungai (2 %), pasar temporer (5,5 %), PD Pasar Jaya (7,5 %), industri (15 %), jalan dan taman (15 %), rumah tangga (58 %). Dari pengelompokan tersebut terlihat bahwa sebagian besar sampah kota berasal dari rumah tangga. Persentase sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, kertas, kayu mencapai 65,05 %. Sedangkan sampah non organik seperti plastik, styrofoam dan besi, sekitar 34,95 %.

Banyaknya produksi sampah per hari kota Jakarta, menyebabkan penanganannya tidak dapat berjalan secara optimal.Bahkan menimbulkan beberapa permasalahan baru, seperti kegiatan pembuangan sampah di sungai, penimbunan sampah di bantaran sungai. Kegiatan tersebut dilakukan oleh warga yang kebanyakan berdiam di tepi sungai. Mereka membuang sampah di sungai karena tidak tersedianya tempat penampungan sampah serta susahnya akses jalan bagi truk kebersihan ke lokasi pemukiman warga.

Akibat dari pengelolaan sampah yang tidak tepat ini antara lain pendangkalan sungai yang akan berakibat banjir saat musim hujan karena berkurangnya volume tampung sungai, penimbunan sampah yang tidak mudah hancur di dalam tanah dapat merusak struktur tanah yang kemudian akan menyebabkan tanah longsor. Beberapa contoh tersebut merupakan dampak yang nampak, sedangkan dampak tak kasat mata masih banyak lagi.

Sampah-sampah tersebut saat ini masih ditangani dengan cara sederhana, yaitu dikumpulkan, dibuang lalu dimusnahkan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang. Penyelesaian produksi sampah yang sangat besar ini sebaiknya dimulai dari sumber sampah. Jika dilihat kembali, rumah tangga merupakan produsen dominan sampah Jakarta.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan di tingkatan rumah tangga seperti pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Dari pemilahan ini, barang yang masih dapat dijual atau dimanfaatkan kembali tidak akan ikut dimusnahkan. Jika dapat dikelola dengan benar, penjualan barang-barang tersebut bisa menjadi sumber penghasilan sampingan.

Jika dibandingkan dari produksi sampah tahun sebelumnya, produksi sampah Jakarta cenderung mengalami peningkatan. Berbagai cara diupayakan untuk menekan produksi sampah kota tersebut. Salah satu caranya adalah dengan pemilahan sampah. Berbicara tentang volume timbulan sampah, yang perlu diingat adalah cara pengurangan jumlah sampah. Tanpa adanya usaha pengurangan produksi sampah, mustahil volume timbulan sampah kota Jakarta akan menurun.

Usaha sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengurangi jumlah produksi sampah kota, adalah menggunakan tas kain saat berbelanja untuk mengurangi kemasan plastik, membawa botol minum sendiri saat bepergian, mengurangi pemakaian barang sekali pakai, meletakkan sampah pada tempatnya, dan masih banyak yang lain. Dari usaha sederhana dan praktis ini jika dilakukan oleh seluruh warga Jakarta, maka tidak mustahil, sampah bukan menjadi permasalahan utama kota lagi dan dampak ikutan sampah niscaya juga akan ikut berkurang. (Hendra Aquan)

Saturday, 15 September 2007

Seandainya Aku Gubernur Hijau


Jakarta merupakan propinsi dengan penduduk terpadat di Indonesia. Konsekuensinya, berbagai pekerjaan rumah, seperti masalah sosial, ekonomi, politik, dan keamanan seakan tidak pernah selesai dan kian menumpuk.
Belum terhitung berbagai kasus lingkungan, kemacetan lalu lintas, jumlah sampah, tersumbatnya aliran air karena selokan berubah fungsi jadi tempat sampah, bahkan putusnya jembatan di Condet karena sampah. Ironis memang Ibu Kota negara ini belum layak dicontoh. Besarnya jumlah penduduk menyebabkan beratnya beban yang mesti ditanggung Jakarta.
Warga Jakarta, entah itu yang masih mengharapkan mercy alias belas kasih ataupun orang yang naik mobil Mercy masih membuang sampah sembarangan. Jalan tidak pernah bebas dari sampah, mulai dari puntung rokok hingga bungkus plastik. Sungai pun berwarna hitam dan bau dengan sampah di permukannya dan mengalir dengan tenang menuju Teluk Jakarta. Dari bungkus permen sampai kursi sofa bisa ditemukan di sungai. Sungai Jakarta bukan lagi tempat memancing ikan, melainkan tempat pembuangan dan penimbunan sampah terbesar.
Andaikan aku gubernur, aku akan berusaha mengembalikan kondisi lingkunganku. Pertama, membenahi sistem pengolahan sampah kota. Kedua, mengurangi pemakaian plastik di tempat perbelanjaan. Ketiga, menindak tegas mereka yang masih nekat membuang sampah di sungai. Keempat, menambah ruang terbuka hijau. Kelima, melestarikan lahan basah.
Sampah Jakarta tidak akan lagi diolah di daerah tetangga. Sampah harus diselesaikan Jakarta sendiri, termasuk juga menanggung risikonya.
Produksi sampah warga Jakarta per hari mencapai 6.000 ton. Sebagian besar penyumbangnya adalah rumah tangga. Maka sampah seharusnya dikelola dari rumah dan bukan setelah ada di tempat penampungan. Memilah sampah adalah terbaik. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sampah non organik dikumpulkan untuk didaur ulang. Sampah yang tidak dapat masuk ke tempat pembuangan sampah akhir.
Sistem pemilahan sampah itu akan aku atur dalam peraturan daerah. Pelanggarnya akan dikenakan sanksi disiplin membantu petugas kebersihan di tempat umum secara sukarela, minimal 30 jam per minggu, tanpa terkecuali.
Budaya plastik juga masih sangat tinggi di negeri ini. ketika belanja sebungkus kacang, kita akan mendapat bonus kantong plastik segede ’gajah’. Padahal, plastik tidak akan hancur selama 100 tahun!
Aku akan mempopulerkan pemakaian kemasan tahan lama, seperti tas kain. Aku juga akan menetapkan pajak pemakaian plastik yang besarnya 30 % dari total belanjaan. Pajak yang terkumpul akan digunakan untuk membantu Program Pemulihan Sungai Jakarta (PPSJ) dari sampah.
Sebagai gubernur, aku juga akan menerapkan ronda sungai, melibatkan masyarakat untuk ikut aktif mencegah pembuangan sampah di sungai. Jika ada yang ketahuan membuang sampah di sungai, sanksinya membersihkan sampah yang berada di sungai, minimal 40 jam setiap minggu, tergantung seberapa berat pelanggarannya.
Jika yang melakukan pembuangan sampah adalah industri, akan dikenakan sanksi administratif, denda, hingga sita aset. Hasilnya dilelang untuk kegiatan pemulihan kondisi lingkungan.
Untuk menanganani limbah cari rumah tangga, aku akan membangun sistem sistem pengolahan limbah mandiri di pemukiman yang tidak terjangkau sistem drainase. Hasil sampingannya, biogas yang dapat dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Saat banjir rutin lima tahunan kemarin, sekitar 80 % wilayah Jakarta tergenang. Agar tidak terulang lagi, aku juga akan meninjau ulang pembangunan pusat perbelanjaan yang tidak sesuai dengan izin bahkan digusur jika memang pelanggarannya berat.
Targetku, luas ruang terbuka hijau minimal 60 % dari luas total wilayah Jakarta. Itu jelas akan menambah daerah resapan dan banjir pun bukan lagi ancaman.
Lahan basah, sungai, rawa, waduk, danau dan situ kini mulai banyak yang beralih fungsi. Bantaran sungai berubah menjadi pemukiman. Pada 2006 saja, 60 % bantaran sungai Jakarta beralih fungsi jadi perumahan.
Untuk pembenahannya, warga di bantaran sungai akan dipindahkan ke rumah susun dengan sewa ringan dan disesuaikan tingkat penghasilannya. Akses listrik dan air bersih yang menjadi legalisasi pemukiman bantaran sungai akan ditertibkan. Jika ada pegawai pemda yang terbukti terlibat akan diproses lewat jalur hukum.
Setelah itu, aku akan mulai menata sungai, mengeruk dasar sungai, kemudian memperindah tepian sungai dengan tanman asli Jakarta. Begitu pula kawasan hutan mangrove. Anggarannya aku masukkan ke APBD.
Intinya, aku ingin menjadi gubernur hijau dengan kebijakan hijau !

PenulisLita Bunga Amalia dan Hendra Michael Aquan. Artikel Seandainya Aku Gubernur Jakarta, diterbitkan di rubrik Tentang Media Indonesia, tanggal 22 Agustus 2007. 

Wednesday, 16 May 2007

Mimpi Pejuang Salak Condet


Jakarta sebagai kota metropolitan, denyut nadinya lekat dengan rutinitas kegiatan politik, pemerintahan dan ekonomi. Kota multi fungsi yang berperan sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi ini mempunyai daya pikat tersendiri bagi warganya. Konsekwensi dari sebuah kota yang menyandang gelar sebagai kota metropolitan tentulah tidak sederhana.

Berbagai penyesuaian tata ruang perlu dilakukan untuk mendukung berbagai bentuk kegiatan di dalamnya. Penyesuaian tata ruang ini cenderung berdampak negatif pada lingkungan. Hal yang paling mudah terlihat adalah berkurangnya lahan terbuka hijau. Pengalih fungsian lahan terbuka hijau merupakan kejadian yang dianggap lumrah di Jakarta. Kebijakan pengalih fungsian lahan dengan dalih kepentingan ekonomi dan pemukiman terbukti sangat ampuh untuk melegalkan perubahan fungsi lahan.

Satu kejadian alam yang menjadi pengingat kesalahan kita dalam mengelola lingkungan Jakarta adalah banjir Februari 2007. Banjir tahun ini jika dibandingkan dengan peristiwa sebelumnya merupakan banjir yang terparah. Wilayah Jakarta hampir 75 % digenangi air. Kerugian yang harus ditanggung baik oleh warga maupun pemerintah tidaklah sedikit.

Belajar dari bencana banjir yang kerap melanda Jakarta, ada seorang lajang Betawi yang tergerak untuk menyelamatkan tempat kelahirannya dari kerusakan. Pemuda yang bernama lengkap Abdul Khodir (36) atau yang akrab dipanggil Diding ini merupakan salah satu pejuang konservasi yang mengangkat isu lingkungan kawasan Condet, Jakarta Timur.

Menurut penuturan Diding, Condet merupakan salah satu wilayah unik yang masih dimiliki Jakarta. Wilayah yang disebut Condet, saat ini dimiliki oleh 3 kelurahan, antara lain Batu Ampar, Kampung Tengah dan Balekambang. Kawasan ini berdasarkan peruntukkannya ditetapkan menjadi kawasan Cagar Budaya sejak zaman Gubernur Ali Sadikin. Namun sungguh ironi, status tersebut tidak sanggup membendung laju perubahan fungsi lahan menjadi kawasan pemukiman dan ekonomi.

Condet, 36 tahun yang lalu merupakan kawasan asri tepian sungai Ciliwung yang ditumbuhi aneka jenis tanaman produktif asli Condet seperti salak, duku, kecapi, pucung, nanam. Secara geografis, Balekambang tepat bersebelahan dengan sungai Ciliwung. Warga asli Balekambang sebagian besar masih memanfaatkan lahan tepian sungai untuk perkebunan tanaman produktif seperti seperti pisang dan salak. Ini merupakan jejak kejayaan kawasan Cagar Budaya Condet yang ingin dipertahankan oleh Diding.

Usaha penyelamatan tanaman lokal sudah dirintis Diding sejak tahun 1995. Untuk mendukung usahanya itu, dia memanfaatkan kebun buah yang dimiliki orang tuanya sebagai kebun percobaan mini. Di atas lahan 2 ha, dengan berbekal pengetahuannya dalam bidang pertanian, Diding sering melakukan percobaan mandiri dengan tanaman salak Condet yang dimilikinya. Dalam penyelamatan bibit salak Condet ini, Diding melibatkan pemuda lokal untuk peduli pada kelestarian salak Condet. Untuk mewadahinya, dibentuklah Wahana Komunitas Lingkungan Hidup (WKLH). Kegiatan utama WKLH adalah melakukan sosialisasi pentingnya penyelamatan tanaman asli Condet ke warga sekitar.

Percobaan yang ditekuninya kini dapat dilihat hasilnya berupa keragaman salak Condet yang berhasil dibudidayakan. Sampai saat ini 10 dari 15 varietas salak telah berhasil dibudidayakan oleh WKLH. Setiap varietas itu memiliki keunikannya masing-masing, mulai dari aroma, warna kulit buah bahkan sampai rasa. Kalau mau dibandingkan dengan salak Pondoh, dilihat dari kualitasnya tidaklah jauh berbeda.

Diding tidak cukup berpuas dengan keberhasilannya membudidayakan 10 varietas salak Condet. Sampai sekarang Diding masih penasaran mengapa kalangan akademisi maupun pemerintah tidak tertarik mengembangkan keunikan salak Condet ini. Karena jika dibandingkan dengan salak pondoh, kualitasnya tidak jauh berbeda. Dilihat dari keunikannya, budidaya salak di Jakarta, hanya dapat ditemui di Condet saja dan salak Condet pada umumnya telah berusia ratusan tahun.

Kurangnya dukungan dari pihak yang berkompeten tidak menyurutkan niatnya untuk terus mewujudkan mimpinya. Pada mulanya Diding sering menemui banyak kendala. Saat itu kondisi kebun sangat tidak mendukung karena keterbatasan prasarana fisik untuk kegiatan pembibitan. Di tengah perjuangannya, dia sempat terhenti karena banyaknya kendala yang ditemui. Namun dengan berbekal semangat dan mimpi untuk mengembalikan ke asrian Condet, saat ini hasil kerja kerasnya mulai berbuah.

Masyarakat umum mulai mengenal keunikan wilayah Condet, bahkan perusahaan swastapun mulai melirik kawasan ini. Satu demi satu mulai bermunculan, dimulai dengan adanya hibah dana untuk pembangunan prasarana fisik yang dimanfaatkan untuk pembuatan green house. Setelah itu berlanjut dengan berbagai bantuan material untuk usaha pembibitan dari Dinas Pertanian DKI Jakarta. Berbagai lembaga yang bergerak di bidang lingkungan hidup sering memanfaatkan kebun mininya untuk berbagai peringatan hari lingkungan. Jika dihitung, tidak kurang 1000 orang telah mengunjungi kebun mini itu. Ternyata ada juga lembaga yang memanfaatkan untuk kegiatan pariwisata bernuansa konservasi lingkungan, yaitu dengan aksi penanaman pohon.

Keunikan wilayah Condet Balekambang dan usaha penyelamatan salak Condet yang dilakukan oleh Diding ternyata menggelitik berbagai media untuk melihat secara langsung ke lokasi. Media cetak dan elektronik kerap menjadi langganannya untuk mengisi segmen khusus tentang lingkungan. Ya, setelah berpuluh tahun, usaha penyelamatan kawasan Cagar Budaya Condet mulai bergaung di masyarakat. Perjuangan Diding yang tidak kenal lelah telah mencuatkan nama Condet Balekambang menjadi salah satu kawasan yang mulai dilirik oleh lembaga pemerintah untuk dijadikan sebagai tempat pendidikan lingkungan dan komunitas yang dibidaninya, WKLH sebagai salah satu stakeholder lokal yang cukup diperhitungkan. Itu semua merupakan fondasi yang akan membangun kembali Condet seperti 36 tahun silam, Condet yang asri, hijau dan rimbun dengan tanaman buah lokalnya. (Hendra Aquan)